IMM JAYA!
Seperti nama pimpinan
komisariat ini yang mengambil nama salah satu tokoh Muhammadiyah yang sangat
penting dan memiliki peran yang besar dalam sejarah kemuhammadiyahan, yaitu KH.
Hisyam.
Beliau adalah Ketua
Pengurus Besar Muhammadiyah yang ketiga. Terpilih dan dikukuhkan sebagai
Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah
dalam Kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta tahun 1934 kemudian dipilih lagi
dalam Kongres Muhammadiyah ke-24 di Banjarmasin pada
tahun 1935, dan berikutnya dipilih kembali dalam Kongres Muhammadiyah ke-25
di Batavia (Jakarta)
pada tahun 1936. Ia adalah salah satu murid langsung K.H. Ahmad Dahlan, yang
juga adalah seorang abdi dalem ulama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Hal yang paling
menonjol dari beliau ialah dalam ketertiban administrasi dan manajemen
organisasinya. Pada periode kepemimpinannya, titik perhatian Muhammadiyah lebih
banyak diarahkan pada masalah pendidikan dan pengajaran, baik pendidikan agama
maupun pendidikan umum. Hal ini terjadi barangkali karena KH. Hisyam pada
periode kepemimpinan sebelumnya telah menjadi Ketua Bagian Sekolah (saat ini
disebut Majelis Pendidikan) dalam Pengurus Besar Muhammadiyah. Hal ini
tercermin dari pendidikan putra-putrinya yang disekolahkan di beberapa
perguruan yang didirikan pemerintah. Dua orang putranya disekolahkan menjadi
guru, yang saat itu disebut, sebagai bevoegd yang akhirnya
menjadi guru di HIS Met de Qur’an Muhammadiyah di Kudus dan
Yogyakarta. Satu orang putranya menamatkan studi di Hogere
Kweekschool di Purworejo, dan seorang lagi menamatkan studi di Europese
Kweekschool Surabaya. Kedua sekolah tersebut merupakan sekolah yang
didirikan Pemerintah Kolonial Belanda untuk mendidik calon guru yang berwenang
untuk mengajar HIS Gubernemen.
Berkat perkembangan
pendidikan Muhammadiyah yang pesat pada periode Hisyam, maka pada akhir tahun
1932, Muhammadiyah sudah memiliki 103 Volkschool, 47 Standaardschool,
69 Hollands Inlandse School (HIS), dan 25 Schakelschool,
yaitu sekolah lima tahun yang akan menyambung ke MULO (Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs, setingkat SMP saat ini) bagi murid tamatan vervolgschool atau standaardschool kelas
V. Di sekolah-sekolah Muhammadiyah tersebut juga dipakai bahasa Belanda sebagai
bahasa pengantar. Sekolah-sekolah Muhammadiyah saat itu merupakan lembaga
pendidikan pribumi yang dapat menyamai kemajuan pendidikan sekolah-sekolah
Belanda, sekolah-sekolah Katolik, dan sekolah-sekolah Protestan. Berkat
jasa-jasa K.H. Hisyam dalam memajukan pendidikan untuk masyarakat, ia
mendapatkan penghargaan dari pemerintah kolonial Belanda saat itu berupa
bintang tanda jasa, yaitu Ridder Orde van Oranje Nassau. Ia dinilai
telah berjasa kepada masyarakat dalam pendidikan Muhammadiyah yang dilakukannya
dengan mendirikan berbagai macam sekolah Muhammadiyah di berbagai tempat di
Indonesia.
Menjadikan nama beliau
sebagai nama pimpinan komisariat kami adalah salah satu bentuk dari penghargaan
kami terharap beliau yang telah berjasa besar terutama di bidang pendidikan.
[ra]
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kyai_Haji_Hisyam
https://muhammadiyah.or.id/kh-hisyam/

Posting Komentar